Dhammavihari Buddhist Studies
  2019-08-16 05:00:00
Kelas Paḷi (4): Vitakkasutta (SN 56.7)

Sukhī hontu, DBS mengadakan kelas #Pali setiap hari Minggu dari jam 13.00 - 15.00. Kelas kali ini adalah bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 21 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin terampil dalam menerjemahkannya. Sutta yang dibahas kali ini adalah Vitakka sutta yang berasal dari Saṃyutta Nikaya. VITAKKASUTTA (SN 56.7) 1077. “mā, bhikkhave, pāpake akusale vitakke vitakkeyyātha VAR, seyyathidaṃ — kāmavitakkaṃ, byāpādavitakkaṃ, vihiṃsāvitakkaṃ. taṃ kissa hetu? nete, bhikkhave, vitakkā atthasaṃhitā nādibrahmacariyakā na nibbidāya na virāgāya na nirodhāya na upasamāya na abhiññāya na sambodhāya na nibbānāya saṃvattanti. ♦️ “vitakkentā ca kho tumhe, bhikkhave, ‘idaṃ dukkhan’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti vitakkeyyātha. taṃ kissa hetu? ete, bhikkhave, vitakkā atthasaṃhitā ete ādibrahmacariyakā ete nibbidāya virāgāya nirodhāya upasamāya abhiññāya sambodhāya nibbānāya saṃvattanti. ♦️ “tasmātiha, bhikkhave, ‘idaṃ dukkhan’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti yogo karaṇīyo”ti. sattamaṃ. Wahai para bhikkhu, Janganlah (kalian) memikirkan pikiran-pikiran yang jahat dan tidak baik, yaitu-pikiran tentang kenikmatan sensual, pikiran tentang niat jahat, pikiran tentang kekejaman. Apa alasan untuk itu? Wahai para bhikkhu, pikiran-pikiran itu adalah tidak bermanfaat, tidak mengarah kepada prinsip-prinsip kesucian, tidak mengarah kepada kejijikan, tidak mengarah kepada tanpa-nafsu, tidak mengarah kepada akhir, tidak mengarah kepada keredaan, tidak mengarah kepada pengetahuan langsung, tidak mengarah kepada pencerahan, tidak mengarah kepada Nibbāna. Dan wahai para bhikkhu, ketika sedang berpikir, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah asal mula duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah akhir dari duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: ”ini adalah jalan yang menuju kepada akhir dari duka.” Apa alasan untuk itu? Wahai para bhikkhu, pikiran-pikiran itu adalah bermanfaat, pikiran-pikiran itu mengarah kepada prinsip-prinsip kesucian, pikiran-pikiran itu mengarah kepada kejijikan, kepada tanpa-nafsu, kepada akhir, kepada keredaan, kepada pengetahuan langsung, kepada pencerahan, kepada Nibbāna. “Oleh karena itu, wahai para bhikkhu, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah asal mula dari duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah akhir dari duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah jalan menuju akhir dari duka’”. Sutta yang ketujuh