Dhammavihari Buddhist Studies
  2019-08-01 04:58:17
Khotbah tentang Perumpamaan Ular-Air (2) -- Tanya-jawab di 1:23:30

Setelah menanggapi Bhikkhu Ariṭṭha tentang pandangan-salahnya yang jahat, kemudian Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa ada dua jenis orang dalam hal mempelajari Dhamma. Beliau menjelaskannya dengan menggunakan ular-air sebagai perumpamaan seperti yang terekam di dalam Alagaddūpamasutta (Khotbah tentang Perumpamaan Ular-Air) di Majjhima Nikāya 22. Orang jenis pertama diibaratkan seperti seseorang yang menangkap ular-air beracun tetapi yang dipegang adalah bagian tubuh atau ekor dari ular. Orang tersebut menurut Buddha akan mengalami penderitaan dalam jangka waktu yang panjang. Jenis kedua adalah orang yang menangkap ular-air dengan tongkat bercabang kemudian dipegang bagian leher dekat dengan kepalanya walaupun tubuh ular melingkar ke lengannya, orang tersebut tetap aman. Apa maksud dari perumpamaan ini? Di kelas Pariyatti Sāsana ini, Ashin Kheminda menjelaskan tentang makna dari perumpamaan tersebut berdasarkan kitab komentar dan subkomentarnya. Selain itu di akhir kelas Ashin Kheminda juga menjelaskan sedikit mengenai perumpamaan tentang rakit. Selamat menikmati! Materi kelas bisa di unduh di sini: https://mail.google.com/mail/u/1/#inbox?projector=1 Video ini merupakan kelas Pariyatti Sāsana yang diadakan di DBS setiap hari Minggu pagi, jam 9 - 11.30. Di kelas ini biasanya Ashin Kheminda akan menyampaikan materi-materi dari Sutta Piṭaka dengan kurikulum yang terstruktur. Manfaatnya telah dirasakan oleh para umat yang hadir, karena setiap minggu mereka belajar tentang materi yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam waktu yang singkat pengetahuan Dhamma mereka bertambah dengan pesat. Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies. Quote untuk video: Belajarlah Dhamma bukan dengan alasan demi mengkritik orang lain atau memenangkan perdebatan melainkan untuk pembebasan.